Sebuah fakta bahwa 9 dari 15 juara paralel bersarang di SELADA. Sebuah fakta juga banyak yang menganggap kelas kami tak kompak. Akhirnya, sebuah fakta pula, seorang Dita berani bicara dengan sinisnya, “Punya hak apa mereka yang tidak menjadi komunitas SELADA untuk berani bicara seperti itu?” *plok3, aku setuju!* .... (Mariana Widjaja)

Selasa, 15 Maret 2011

RENUNGAN Selasa, 15 Maret 2011



“...karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya” < Mat. 6:7–15> Ya Yesus, aku bersyukur dan berterima kasih atas penyertaan-Mu sehingga aku dapat melalui segala kesulitan hidup dengan baik. Amin.

Selasa, 15 Maret 2011
Pekan Prapaskah I (U)Sta. Lousia de Marrillac;
St. Klemens Maria Hofbauer
Bacaan I: Yes. 55:10–11
Mazmur : 34:4–5,6–7,16–17,18–19; R: 18b
Bacaan Injil : Mat. 6:7–15

”Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi ja¬ngan¬lah kamu seperti mereka, karena Bapa¬mu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebe¬lum kamu minta kepada-Nya. Karena itu ber¬doalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Diku¬duskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]Karena jikalau kamu mengampuni ke¬sa¬lahan orang, Bapamu yang di sorga akan meng¬ampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”



Renungan

Sepasang suami istri sudah enam tahun menikah. Mereka belum juga dikaruniai seorang anak pun. Berbagai cara telah mereka tempuh untuk mendapatkan anak: pergi ke dokter spesialis ternama, memakan ramuan-ramuan yang disarankan, bahkan sampai mendatangi sejumlah paranormal dan dukun sakti. Akan tetapi, hasilnya nihil: anak yang diharapkan tak kunjung datang. Akhirnya, dalam keputusasaan, mereka berziarah ke Gua Maria Sawer Rahmat di desa Cigugur, Kuningan. Apa yang terjadi? Sebulan kemudian sang istri dinyatakan hamil. Pasangan ini tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan yang mengabulkan jeritan hati mereka.

Cerita dengan nada yang hampir sama sering kita baca di media massa. Kesaksian seperti kisah di atas memang baik dan bisa mengharukan. Namun, barangkali kita bertanya, ”Apakah Tuhan hanya bekerja lewat peristiwa yang luar biasa?” Pertanyaan lebih lanjut, ”Apakah kita hanya berterima kasih dan mensyukuri doa kita yang terkabul? Bagaimana seandainya doa kita ’tidak dikabulkan’ Tuhan?”

Santo Paulus pernah memberi kesaksian yang terdengar aneh. Ia justru mensyukuri atas doanya yang tidak terkabul. Ia mensyukuri kesulitan dan kelemahan yang harus ia tanggung. Kebesaran Tuhan tidak hanya terungkap atas terkabulnya doa kita, tetapi atas kekuatan yang Dia berikan sehingga kita mampu menghadapi kesulitan hidup. Doa memang mempunyai banyak dimensi. Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus menjadi pola dan pegangan hidup kita.

RENUNGAN Senin, 14 Maret 2011



“...sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Ya Yesus, terima kasih bahwa Engkau telah mengingatkan aku untuk memberi perhatian dan kasih sayang kepada siapa pun yang lemah dan tidak berdaya. Amin.

Senin, 14 Maret 2011
Pekan Prapaskah I (U) Sta. Matilda
Bacaan I: Im. 19:1–2,11–18
Mazmur : 19:8,9,10,15; R: Yoh. 6:64b
Bacaan Injil : Mat. 25:31–46


”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gem¬bala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab….)

Renungan

Bertemu artis atau tokoh-tokoh terkenal, apalagi bisa berfoto bersama adalah gejala umum di mana pun. Orang merasa senang dan bangga bisa bertemu orang terkenal. Mereka bisa menceritakan atau malah menunjukkan foto sebagai bukti bahwa mereka pernah bertemu. Sikap ini amat kontras dibandingkan saat orang bertemu seorang pengemis di jalanan yang kumal. Secara spontan, orang cenderung menghindar atau buru-buru melempar recehan dan berlalu jauh-jauh.

Siapa pun bisa bertemu dan memberi perhatian kepada orang terkenal atau orang yang ”menguntungkan”. Tidak ada yang istimewa, sebaliknya bertemu dan memberi perhatian orang tersisih: gelandangan, narapidana, dan janda miskin, barulah sesuatu yang mempunyai nilai. Yesus mengajak kita untuk memperhatikan justru orang-orang yang tersingkir, mereka yang tak punya apa pun yang bisa dibanggakan, dibandingkan orang yang tersohor.

Doa: Tuhan, terima kasih bahwa engkau telah mengingatkan aku untuk memberi perhatian dan kasih sayang kepada siapa pun yang lemah dan tidak berdaya. Amin.

Minggu, 13 Maret 2011

RENUNGAN Minggu, 13 Maret 2011

”Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” <> Ya Yesus, , berilah aku keyakinan teguh akan kebaikan dan perlindungan-Mu. Dengan demikian, ketika aku lemah, aku tidak goyah dan jatuh oleh godaan di sekitarku. Amin.



Pekan Prapaskah I (U) Sta. Eufrasia; B. Ludovikus dr Casoria
Bacaan I: Kej. 2:7–9; 3:1-7
Mazmur : 51:3–4,5–6a,12–13,14,17; R: lih. 3a
Bacaan II : Rm. 5:12–19 (Rm. 5:17–19)
Bacaan Injil : Mat. 4:1–11

Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, pe¬rintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangan¬nya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: ”Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: ”Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berka¬ta¬lah Yesus kepadanya: ”Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.


Renungan

Seorang pencuri pernah tertangkap tangan saat hendak mencuri di sebuah seminari. Rektor seminari yang terbangun karena gaduh, menemui pencuri yang sedang dikelilingi para frater. Ketika ditanya alasannya, pencuri itu mengatakan bahwa dirinya amat lapar dan bermaksud mencari makanan. Saat disodorkan sepiring nasi dengan lauk seadanya, pencuri langsung melahapnya. Ia memang terlihat sungguh kelaparan.

Lapar sering membuat orang kehilangan akal sehat dan pertimbangan-pertimbangan moral. Apa pun bisa dilakukan demi sesuap nasi. Rupanya, lapar tidak hanya terbatas pada makanan dan minuman. Manusia dapat pula mengalami lapar dan haus akan kekuasaan atau harta. Orang yang lapar dan haus kekuasaan, dapat melakukan apa pun demi meraih apa yang diinginkannya. Bahkan, tidak jarang ia harus menyikut kiri-kanan untuk melicinkan jalannya. Hal yang sama dapat menimpa mereka yang haus akan harta benda. Sering kita dengar, karena berebut harta warisan, sebuah keluarga yang semula rukun menjadi terpecah-belah.

Yesus, pada saat berada pada puncak kelaparan, karena berpuasa selama 40 hari, mendapat tiga kali godaan yang menggiurkan. Yesus telah memberi contoh, ketika kita memiliki keyakinan teguh pada penyelenggaraan Ilahi, kita dapat mengatasi kerapuhan manusiawi kita.

Sabtu, 12 Maret 2011

RENUNGAN Sabtu, 12 Maret 2011



“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” < Luk. 5:27–32> Ya Yesus, ampunilah segala kelemahanku. Bantulah aku agar mempunyai keberanian untuk bertobat. Amin.

Hari Sabtu Sesudah Rabu Abu (U)St. Gregorius l/Agung, Paus; St. Maximilianus;
St. Theofanus; Sta. Yustina dr Arezzo; B. Aloisius Orione
Bacaan I: Yes. 58:9b–14
Mazmur : 86:1-2,3–4,5–6; R: 11a
Bacaan Injil : Luk. 5:27–32

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: ”Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: ”Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: ”Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Renungan

Kita sering mengadakan pesta. Tidak jarang pesta itu untuk menandai permulaan atau akhir suatu fase kehidupan, misalnya: pesta perkawinan, orang memulai hidup baru dalam berumah tangga; dan pesta kelulusan, mengakhiri suatu perjuangan dalam studi.

Lewi si pemungut cukai mengadakan pesta perjamuan untuk menandai pertobatannya. Ia telah memutuskan untuk bertobat: meninggalkan kehidupan penuh dosa dan mengikuti Yesus. Menyadari kesalahan hidup dan memutuskan untuk memperbaikinya adalah suatu keputusan yang berani sekaligus menggembirakan. Suatu keputusan yang pantas untuk dirayakan.

Yesus tanpa ragu ikut bergabung dengan pesta Lewi sang pendosa. Sikap Yesus bertolak belakang dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka justru bersungut-sungut tidak senang. Mereka sendiri merasa bersih dan suci.
”Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat!” ujar Yesus. Lewat kata-kata, Yesus mengajak kita, para pengikut-Nya, untuk bersikap seperti diri-Nya. Orang yang bertobat harus kita dukung dan kita terima dengan tangan terbuka.

Jumat, 11 Maret 2011

RENUNGAN Jumat, 11 Maret 2011



Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" < Mat. 9:14–15> Ya Yesus, dengan bimbingan-Mu yang penuh kasih, tuntunlah aku agar dapat melanjutkan puasa yang telah aku mulai ini. Ajarlah aku juga untuk menjalankan puasa dengan hati ringan gembira dan memaknainya dengan perbuatan kasih.


Jumat Sesudah Rabu Abu (U)St. Sofronius; St. Pionisius;
St. Eulogius dan Leokrita
Bacaan I: Yes. 58:1–9a
Mazmur : 51:3–4,5–6a,18–19; R: 19a
Bacaan Injil : Mat. 9:14–15

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: ”Menga¬pa kami dan orang Farisi ber¬puasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita se¬la¬ma mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”


Renungan

Konon, ketika Sidharta Gautama sedang bertapa dan berpuasa amat keras, lewatlah seorang pemusik. Sang pemusik ini menyanyikan sebuah lagu dengan syair sebagai berikut: ”Bila senar harpa diputar terlalu kuat maka senar akan putus.

Namun, bila senar diputar terlalu kendor, akan menghasilkan nada yang fals!” Mendengar syair tersebut, tersentaklah Sidharta. Seperti mendapat pencerahan, Sidharta tiba-tiba menyadari bahwa tubuh manusia itu ibarat senar harpa. Bila dipaksa berpuasa terlalu keras, tubuh akan menjadi sakit. Sebaliknya, bila kita terlalu memanjakan tubuh dengan membiarkan diri makan semau-mau kita, juga akan membuat tubuh kita tidak sehat.

Dewasa ini banyak orang, khususnya kaum wanita, berpuasa alias menghindari berbagai makanan dan minuman. Tujuan mereka satu, yaitu untuk menjaga kelangsingan tubuh. Bagi mereka, puasa hanyalah alat untuk memperoleh kesehatan serta keindahan tubuh.

Berpuasa memang bukan suatu keutamaan pada dirinya sendiri. Puasa merupakan alat untuk mencapai keutamaan bila kita memanfaatkannya secara benar. Puasa dapat menjadi sarana untuk melatih penguasaan diri dan semakin dekat dengan Tuhan. Lewat puasa, kekuatan rohani dapat kita nyatakan dalam kehidupan kita dalam bentuk karya amal kasih.

Kamis, 10 Maret 2011

RENUNGAN Kamis, 10 Maret 2011



"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” < Lukas (9:22-25)> Ya Yesus, aku ingin selalu mengikuti-Mu, meski tantangan dan cobaan kuhadapi.

Hari Kamis sesudah Rabu Abu
"Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya."
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?(Lukas (9:22-25))

Renungan


Di tengah ingar-bingar musik diskotik itu, di genggaman Bobby diselipkan bungkus plastik kecil berisikan beberapa butir pil. Si penyelip berbisik di telinga Bobby, "Teguklah dan masalahmu akan melayang pergi jauh." Dentuman musik seolah mengiringi pergulatan batin Bobby. Di benaknya terngiang suara lembut mamanya, "Bob, apa pun yang terjadi dalam hidupmu, setialah selalu pada Yesus." Namun, suara itu segera berganti dengan suara ketus mantan pacarnya yang baru putus dengannya, "Apaan kamu ini. Laki-laki banci! Kamu itu nerd dengan agamamu! Tentu saja aku lebih memilih having fun dengan Sam daripada menjadi kekasih orang kolot kayak kamu, bye!" Kemudian tanpa pikir panjang lagi, Bobby segera menegak semua pil itu di tangannya itu. Keesokan harinya ia ditemukan tewas di bawah meja diskotik dengan mulut berbusa.

Lewat mulut Musa, nabi-Nya, Allah berbicara dengan jelas kepada kit bahwa ada dua tawaran dalam hidup. Mereka yang memilih berkat akan hidup dan yang memilih kutuk akan mati. Allah mengundang kita pada kehidupan, "Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunannya" (ay.19). Allah adalah sumber kebaikan yang melimpah ruah, maka jika kita memilih kehidupan kita akan mendapatkan kebaikan yang melimpah ruah itu, juga ketika berada dalam situasi yang menyesakkan.

Itulah hidup kita. Kita selalu dan setiap hari dihadapkan pada dua pilihan besar: berkat atau kutuk, hidup atau mati. Mendiang Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa kita sedang ada di dalam pertempuran antara keduanya, yakni antara budaya kehidupan dan budaya kematian. Tentu saja budaya kematian akan tampil menarik dan selalu menjanjikan kemudahan, namun ujungnya pasti mengerikan.

Di sisi lain budaya kehidupan tampil biasa-biasa saja dan tidak selalu menjanjikan kemudahan, tapi ujungnya adalah keindahan hidup dan berkat yang melimpah. Orang muda banyak di hadapkan pada dua pilihan ini. Belajarlah dari pengalaman Bobby. Janganlah bingung dengan hiruk pikuk suara sumbang, peganglah Firman-Nya hari ini yang tegas, "Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup."

Doa:Ya Sumber Kehidupan, datanglah dan jadikan aku pewarta kehidupan di tengah budaya kematian yang mengelilingiku. Amin.

Rabu, 09 Maret 2011

RENUNGAN Rabu, 9 Maret 2011


”Ingatlah, jangan kamu melakukan ke¬wajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapa¬mu yang di sorga.” < Mat. 6:1–6,16–18> Ya Yesus, doronglah aku agar pada masa Prapaskah ini aku sungguh bertobat, meninggalkan kebiasaan buruk dan memupuk kebiasaan yang baik.


Rabu, 9 Maret 2011
RABU ABU (U)
St. Primus dan St. Felicianus; St. Efrem;
Sta. Fransiska Romana; St. Gregorius dr Nyssa
Bacaan I : Yl. 2:12–18
Mazmur : 51:3–4,5–6a,12–13,14,17; R: 3a
Bacaan II : 2Kor. 5:20–6:2
Bacaan Injil : Mat. 6:1–6,16–18


”Ingatlah, jangan kamu melakukan ke¬wajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapa¬mu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata ke¬pa¬damu: Sesungguhnya mereka sudah men¬dapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upah¬nya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. ”Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Se¬sungguhnya mereka sudah mendapat upah¬nya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang ber¬puasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Renungan

Salah satu acara yang terkenal di kota Rio de Janeiro, Brasil, adalah karnaval. Jutaan orang dari mancanegara datang untuk menyaksikan acara yang menghabiskan banyak uang ini.

Semula karnaval diadakan satu hari sebelum hari Rabu Abu atau sebelum masa puasa. Karena banyak peminatnya, karnaval diadakan beberapa hari sebelumnya, tetapi tidak boleh sesudah Rabu Abu. Karnaval berasal dari kata Latin yang artinya ”Selamat tinggal daging”. Maksudnya adalah orang boleh makan (daging) sepuasnya sebelum masuk masa puasa yang dimulai pada hari Rabu Abu.

Kewajiban puasa dalam agama Katolik terasa terlalu ringan. Sebab, memang masa Prapaskah tekanannya bukanlah puasa, melainkan pertobatan. Karenanya, masa Prapaskah diawali dengan pengurapan abu, simbol kuat untuk pertobatan. Namun, tobat saja tidak cukup. Seperti kata Santo Agustinus, doa dan tobat kita harus dilengkapi dua hal lain, yaitu puasa dan aksi amal untuk sesama.Pada hari ini kita diurapi dengan abu, tanda pertobatan. Hendaknya hal ini bukan sekadar ritual belaka, melainkan tanda lahiriah untuk pertobatan yang nyata.

doa:Tuhan Yang Mahabaik, doronglah aku agar pada masa Prapaskah ini aku sungguh bertobat, meninggalkan kebiasaan buruk dan memupuk kebiasaan yang baik. Amin

Selasa, 08 Maret 2011

RENUNGAN Selasa, 8 Maret 2011

”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” <> Ya Yesus, doronglah aku untuk senantiasa berlaku adil dan bertanggung jawab dalam melaksanakan kewajibanku terhadap masyarakat dan terlebih lagi kepada-Mu
Pekan Biasa IX (H) St. Yohanes de Deo; St. Yulianus dr Toledo;
St. Filemon dan Apolonios; St. Petrus Obazin
Bacaan I: Tob. 2:9–14
Mazmur : 112:1–2,7bc–8,9; R: 7c
Bacaan Injil : Mrk. 12:13–17


Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan.Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: ”Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: ”Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!” Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: ”Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: ”Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia.

Renungan

Sistem perpajakan rupanya sudah lama ada. Caranya mungkin bisa berbeda-beda, tetapi prinsipnya sama: orang yang tinggal dalam suatu masyarakat, mempunyai kewajiban untuk ikut ambil bagian dalam masyarakat tersebut. Kaisar adalah penguasa wilayah. Pajak dikumpulkan dari rakyat atas namanya. Di Palestina pada masa itu, kaisar adalah simbol orang asing yang menguasai negara dengan cara paksa, cara kekerasan. Bisa dimengerti bahwa bagi orang Yahudi yang terjajah, membayar pajak kepada kaisar merupakan suatu penghinaan. Di lain pihak, melawan kaisar adalah tindakan yang mempunyai risiko besar. Pertanyaan soal membayar pajak adalah jebakan yang licik. Namun, Yesus dengan cepat mengetahui jebakan tersebut. Jawaban Yesus yang jitu membuat bungkam si penanya.

Bila kita bicara soal pajak, yang kita bayangkan pertama-tama adalah uang. Padahal, ada kontribusi lain yang tidak selalu berbentuk uang. Rasa tanggung jawab, rasa ikut memiliki dan memelihara adalah sesuatu yang lebih penting ketimbang sekadar membayar sejumlah uang. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kewajiban yang sama tidak hanya berlaku bagi negara, tetapi juga bagi Allah, dengan sebuah prinsip: memberi kepada orang yang menjadi haknya!

Senin, 07 Maret 2011

RENUNGAN Senin, 7 Maret 2011

Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. . Ya Yesus, Tuhan, bukalah hati dan budiku agar aku tidak serakah seperti pekerja-pekerja kebun anggur sehingga dapat selalu terbuka pada Sabda yang Kausampaikan kepadaku. Amin.

Pekan Biasa IX Pw Sta. Perpetua dan Felisitas, Mrt.(M)
Bacaan I: Tob. 1:1a,2a,3; 2:1b–8
Mazmur : 112:1–2,3–4,5–6; R: 1a
Bacaan Injil : Mrk. 12:1–12


Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: ”Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia me¬¬nyuruh seorang hamba kepada penggarap-peng¬garap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka me¬nangkap hamba itu dan memukulnya, lalu me¬nyu¬ruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudi¬an ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan me¬reka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu mem¬baca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.


Renungan
Saat renungan ini ditulis, kasus Gayus Tambunan, sedang ramai dibicarakan. Gayus, pegawai pajak biasa, telah menilep uang pajak milyaran rupiah. Orang pun tersentak dan terkaget-kaget bahwa pegawai sekelas Gayus mampu mengorupsi uang begitu banyak. Seolah-olah soal pajak adalah miliknya sendiri. Itulah juga yang terjadi pada para pekerja upahan di kebun anggur dalam Injil hari ini. Para petani tersebut menjadi serakah dan tidak tahu diri. Mereka jadikan seolah-olah ladang anggur itu milik mereka sendiri. Bahkan, anak yang empunya kebun pun mereka aniaya dan mereka bunuh.

Perumpamaan tentang para pekerja upahan di kebun anggur merupakan kritikan tajam Yesus pada sikap bangsa Israel. Yesus menunjukkan kesalahan bangsa Israel yang menjadikan Kerajaan Allah sebagai milik pribadi. Mereka menyepelekan Firman-Nya dan menolak menaati Putra-Nya, Yesus Kristus. Bahaya seperti ini dapat terus terulang. Para penguasa Gereja dapat saja menunjukkan sikap yang sama seperti para penggarap tanah yang jahat itu. Hal itu terjadi bila mereka menjalani kekuasaannya menurut pikiran mereka sendiri saja dan menolak Firman Allah.

Sabtu, 05 Maret 2011

RENUNGAN Minggu, 6 Maret 2011



”Bukan setiap orang yang berseru ke¬pada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” ingatkanlah aku selalu agar tidak hanya pandai berkata-kata, melainkan pertama-tama melaksanakan kehendak-Mu.


‎ Pekan Biasa IX (H)St. Marsianus dr Konstantinopel;
St. Hesikios; St. Fridolin
Bacaan I: Ul. 11:18,26–28,32
Mazmur : 31:2–3a,3bc–4,17,25; R: 3b
Bacaan II : Rm. 3:21–25a,28
Bacaan Injil : Mat. 7:21–27



”Bukan setiap orang yang berseru ke¬pada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan da¬tanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang men¬diri¬kan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”



Renungan

Pernah ada seorang pendakwah yang digemari banyak orang. Di mana pun ia berkhotbah, ribuan orang datang untuk mendengarkannya. Demikian juga wejangan-nya di radio didengarkan banyak orang. Pamornya merosot tajam sejak terkuak berita bahwa ia menikah lagi. Para penggemarnya, khususnya para ibu tidak mau lagi mendengarkannya. Mereka kecewa karena dia ternyata tega memadu istrinya yang setia.

Kata-kata tanpa didukung perbuatan akan menjadi kurang bermakna. Bahkan secara umum, perbuatan lebih dihargai daripada kata-kata. Itulah sebenarnya yang diingatkan Yesus dalam Injil hari ini. Bukan mereka yang berseru ”Tuhan, Tuhan!” yang akan masuk Kerajaan Allah, melainkan mereka yang mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya. Orang seperti itu ibarat orang yang mendirikan rumah di atas fondasi yang kokoh. Kata-katanya selaras dengan perbuatannya.