Sabtu, 05 Maret 2011
RENUNGAN Sabtu, 5 Maret 2011
Jumat, 04 Maret 2011
RENUNGAN Jumat, 4 Maret 2011

Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: ”Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” < Mrk. 11:11–26> Tuhan, ajarilah aku untuk menghargai rumah-Mu dengan sepantasnya. Doronglah aku selalu untuk ikut bertanggung jawab dalam penggunaan bait-Mu yang kudus. Amin
Jumat, 4 Maret 2011
Pekan Biasa VIII (H)St. Kasimirus;
St. Lusius, Paus; B. Placida
Bacaan I: Sir. 44:1,9–13
Mazmur : 149:1–2,3–45–6a,9b; R: 4a
Bacaan Injil : Mrk. 11:11–26
Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata-Nya kepada pohon itu: ”Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!” Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya. Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah.
Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: ”Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya.
Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya.Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: "Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering."Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.
Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."(Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)
Renungan
Pada hari Minggu dan hari-hari raya, cukup sering datang permintaan izin untuk berjualan di sekitar gereja. Jualannya bervariasi, dari mulai benda-benda rohani sampai makanan dan minuman. Tidak lupa, dicantumkan juga catatan bahwa sebagian keuntungan akan diserahkan untuk kepentingan Gereja.
Itu adalah contoh sederhana yang membuktikan bahwa bisnis tidak mengenal situasi dan tempat. Yang penting, ada peluang memperoleh untung maka jadilah transaksi. Hal seperti itu juga yang terjadi di zaman Yesus. Keramaian Bait Allah dimanfaatkan oleh para pedagang. Alasan mereka masuk akal, yaitu membantu umat memperoleh barang persembahan dengan mudah. Selain bermacam-macam barang persembahan, dijual juga burung-burung merpati. Dan untuk ”membantu umat”, juga disediakan jasa penukar uang. Bisa dibayangkan bahwa suasana menjadi amat hiruk-pikuk. Yesus menjungkir-balikkan meja-meja penukar uang dan mengusir para pedagang. Alasan Yesus amat jelas, Dia ingin menyucikan dan mengembalikan rumah Allah pada fungsinya semula.
Apa yang terjadi pada zaman Yesus selalu dapat terulang kembali. Agama dan Tuhan sering ”dijual” demi kepentingan sekelompok kecil orang.
Kamis, 03 Maret 2011
RENUNGAN Kamis, 3 Maret 2011

”Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” < Mrk. 10:46–52> Tuhan Yang Mahabaik, berilah aku iman yang kuat sehingga selalu mampu melihat kebesaran serta kebaikan-Mu dalam hidupku. Amin.
Kamis, 3 Maret 2011
Pekan Biasa VIII (H) St. Nikolo d`Albergati; St. Marinus; Sta. Kunigunde
Bacaan I: Sir. 42:15–25
Mazmur : 33:2–3,4–5,6–7,8–9; R: 6a
Bacaan Injil : Mrk. 10:46–52
Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan mu¬rid-murid-Nya dan orang banyak yang ber¬bondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: ”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: ”Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan berkata: ”Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: ”Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: ”Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: ”Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya: ”Pergilah, imanmu telah me¬nyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Renungan
Ada seorang pengemis buta yang selalu datang minta makan dan uang ke sebuah biara. Dia membawa tongkat putih yang bisa dilipat. Berbulan-bulan secara rutin pengemis buta ini datang meminta sedekah dan selalu diberi oleh penghuni biara. Suatu hari, salah seorang biarawan secara kebetulan bertemu si pengemis ini di bus kota. Ternyata si pengemis tidak buta. Biarawan ini tentu saja sangat heran. Karena penasaran, sang biarawan bertanya, ”Maaf, Bapak kan orang buta yang biasa datang mengemis di rumah kami?” Tentu saja orang buta itu terkejut dan malu. Kemudian ia menjawab dengan santai, ”Betul, tapi hari ini saya libur, tidak sedang kerja!”
Bartimeus adalah seorang yang sungguh buta matanya, tidak seperti pengemis buta gadungan itu. Bertahun-tahun Bartimeus tidak dapat melihat apa pun. Dunianya gelap gulita. Ia memang buta, tetapi ia memiliki mata iman yang baik. Dengan mata imannya pula, Bartimeus dapat melihat bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Ia yakin bahwa Yesus dapat melakukan apa pun yang dimintanya. Keyakinan Bartimeus benar adanya. Yesus berkata, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau!”
Umumnya kita beruntung karena memiliki mata yang awas, dapat melihat segala sesuatu dengan baik. Lebih beruntung lagi apabila kita memiliki mata iman seperti Bartimeus. Dengan mata iman yang baik, kita menjadi lebih mampu melihat kebaikan orang lain dan lebih-lebih mampu melihat kehadiran Tuhan dalam hidup kita.
Rabu, 02 Maret 2011
RENUNGAN Rabu, 2 Maret 2011

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” < Mrk. 10:32–45> Ya Yesus, semoga aku lebih mau melayani daripada dilayani, lebih mau menghibur daripada dihibur. Semoga Sabda-Mu senantiasa menjadi terang bagi hidupku.
Pekan Biasa VIII (H)
St. Agnes dr Praha; St. Simplisius, Paus
Bacaan I : Sir. 36:1,4–5a,10–17
Mazmur : 79:8,9,11,13; R: Sir. 36:1b
Bacaan Injil : Mrk. 10:32–45
Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan.…Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: ”Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” Jawab-Nya kepada mereka: ”Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?” Lalu kata mereka: ”Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi kata Yesus kepada mereka: ”Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” Jawab mereka: ”Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: ”Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”
Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ”Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Renungan
Mbok Supar mempunyai anak semata wayang. Sering ia menggendong anaknya itu, terutama saat sedang rewel atau menangis, sambil bersenandung, ”Talelo, lelo-lelo ledung. Jop meneng, ojo pijer nangis …!” Senandungnya itu ia nyanyikan supaya anaknya berhenti menangis.
Tidak jarang senandung ibu merupakan doa sekaligus harapan. Harapan agar anaknya kelak tumbuh menjadi orang yang sukses. Keinginan orangtua agar anaknya menjadi sukses adalah keinginan yang wajar. Karenanya, sebetulnya wajar pula bahwa Yakobus dan Yohanes meminta posisi yang mulia pada Yesus. Bahwa kemudian sepuluh murid yang lain menjadi marah, menunjukkan bahwa murid lain pun sebenarnya memiliki keinginan yang sama. Akan tetapi, setelah mengetahui keinginan Yakobus dan Yohanes, Yesus menanggapi demikian, ”Kamu tidak tahu apa yang kamu minta!” (Mrk. 10:38). Menjadi murid Kristus tampaknya tidak selalu sejalan dengan hukum yang berlaku di masyarakat. Yesus menuntut para murid-Nya untuk saling melayani, bukannya dilayani. Yesus sendiri memberi berbagai contoh, termasuk membasuh kaki para murid.
Sebenarnya masyarakat mengakui kebenaran ajaran Kristiani bahwa orang akan lebih menghargai serta membenarkan pemimpin yang berjiwa pelayanan daripada sebaliknya. Dalam kehidupan sehari-hari pun orang yang cepat tanggap atas kebutuhan orang lain lebih dihormati daripada mereka yang sibuk mencari kehormatan diri sendiri.
Selasa, 01 Maret 2011
RENUNGAN Selasa, 1 Maret 2011

“...dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”
Selasa, 1 Maret 2011
Pekan Biasa VIII (H) St. Feliks III (II), Paus; St. David; Sta. Magdalena dr Kanossa
Bacaan I: Sir. 35:1–12
Mazmur : 50:5–6,7–8,14,23; R: 23b
Bacaan Injil : Mrk. 10:28–31
Berkatalah Petrus kepada Yesus: ”Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”
Renungan
Ada seorang arsitek yang cerdas, tetapi sayang jarang orang memanfaatkan keahliannya. Suatu hari pastor paroki memintanya untuk membuat rancangan gambar gereja. Paroki tersebut memang sedang berencana membangun gedung gereja baru. Dengan sungguh-sungguh sang arsitek membuat sebuah gambar gereja yang amat bagus. Untuk kerja kerasnya ini, ia rela bekerja tanpa bayaran. ”Karya ini saya persembahkan untuk Tuhan,” katanya memberi alasan.
Sesudah gedung gereja selesai dibangun, banyak orang mengagumi gereja baru itu. Tidak sedikit di antara mereka yang bertanya, ”Siapa arsiteknya?” Sejak saat itu, sang arsitek kebanjiran order. Dalam suatu kesaksian, sang arsitek mengatakan bahwa amal baiknya telah diganjar Tuhan secara berlimpah-limpah.
Petrus berkata, ”Kami telah melakukan apa yang Kauminta, meninggalkan segalanya demi mengikuti-Mu, Tuhan. Apa balasannya?” Yesus pun meyakinkan Petrus bahwa upah mengikuti Tuhan adalah di luar perkiraan. Berapa pun yang telah kita kurbankan, kita akan mendapatkannya kembali berlimpah ruah.
Tidak ada gunanya kita menghitung untung rugi dalam hal kebajikan. Yesus mengajak kita untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Berapa ganjaran yang akan kita terima? Serahkanlah hal itu kepada Tuhan. Yang jelas, semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita akan menerima kembali.
Doa: Tuhan, engkau memenuhi janji-Mu, mengganjar mereka yang bekerja demi nama-Mu. Kobarkanlah semangat berkurban di dalam hidupku, bukan saja untuk memperoleh ganjaran, tetapi lebih-lebih karena kecintaan kami kepada-Mu dan sesama. Amin.
gkau di atas segala-galanya. Amin.
Senin, 10 November 2008
Girl Power di Kembang Gula Sanur

KELAS-KELAS dihias dengan tema perempuan. Ada juga “pameran” bra. Anak-anak SMA Santa Ursula memang jagonya bikin acara beda. Kalau sekolah-sekolah lain doyan bikin acara khas anak SMA macam pensi atau cupcup- an, SMA Santa Ursula atau Sanur justru emoh bikin acara serupa. Buktinya bisa dilihat di acara Kembang Gula alias Kebanggaan Menjadi Bagian Generasi Perempuan Unggulan. Acara ini bukan sejenis acara pensi, talkshow, apalagi kompetisi olahraga.
Acara ini menggabungkan antara berbagai kompetisi, pemberian informasi, juga seminar, yang mayoritas topiknya tentang perempuan. Digelar Sabtu lalu di sekolah mereka di Jalan Pos, anak-anak Sanur bikin berbagai kompetisi mulai kompetisi fashion desain berbahan daur ulang, melukis di sepatu, modern dance, pidato bergaya tokoh terkenal, dan fotografi.
Ada juga seminar dan talkshow tentang perempuan, juga pameran foto dan band performance. Lucunya, ada juga stan unik macam stan yang ngasih informasi seputar bra, mulai jenis-jenis bra sampai gimana memakai bra yang benar. Ada juga stan yang ngajarin keterampilan berkreasi sama tali-tali kecil.
Pokoknya, acaranya perempuan banget deh. Tapi kenapa temanya perempuan ya? “Sebenarnya sekolah pengin kami mengangkat tema tentang kebanggaan sama sekolah. Tapi kan agak susah jadi kita bikin aja kebanggaan terhadap perempuan. Di sini kan muridnya perempuan semua,” kata ketua acara Devina Vania Tertia.
Kelar bikin tema, sekolah juga mewanti-wanti supaya semua pengisi acaranya bukan artis alias anak-anak Sanur sendiri dan anak-anak dari sekolah lain. Maksudnya sih supaya di acara ini potensi anak-anak Sanur bisa tersalurkan dan dilihat banyak orang. “Memang sih, untuk menarik banyak massa, ara yang paling gampang ialah mengundang artis. Tapi justru sekolah enggak mau. Maksudnya sih biar kita mikir untuk bikin acara yang sekreatif mungkin,enggak biasa. Kalau pensi, cup, dan mengundang artis itu kan sudah biasa. Jadi kita benar-benar harus kreatif,” kata cewek yang biasa dipanggil Vina ini. Hasilnya, Kembang Gula memang kreatif. Apalagi kalau lihat kompetisi menghias kelas dengan tema perempuan.
Ada yang bertema trafficking dan perempuan sebagai komoditas, perempuanperempuan perkasa, juga ada yang bertema urban. Yang pasti, para peserta niat banget dalam menghias kelas mereka sesuai tema. Pokoknya, mereka benar-benar perkasa deh. Enggak heran, walau enggak mengundang artis atau band terkenal, Kembang Gula laris manis didatangi pengunjung.
Bayangin saja, tiket seharga Rp 5.000 sebanyak 800 lembar sudah ludes dalam waktu setengah jam. Terpaksa deh, panitia memperbanyak tiket dengan cara memfotokopinya. Waduh, di mana-mana, acara yang kreatif dan seru memang enggak akan sepi pengunjung deh. (herita endriana).
Rabu, 29 Oktober 2008
Retret Siswa
Menginjak tahun terakhir di SMA Santa Ursula, siswa-siswa kelas XII mengikuti kegiatan retret di Sukabumi. Para siswa diajak untuk sejenak berhenti dari seluruh kegiatan pembelajaran akademis. Kegiatan mereka lebih diarahkan untuk pengembangan kehidupan spritual atau rohani.
Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini bersifat mengajak para siswa untuk mengenal diri, merasa dicintai oleh Allah lewat sesama, mampu menghadapi hidup yang penuh tantangan yang berat. Selain itu, siswa diarahkan untuk secara sungguh-sungguh menentukan masa depannya berkaitan dengan profesi atau karir yang menjadi cita-citanya. Dengan retret tersebut diharapkan mampu menemukan kehendak Tuhan melalui permenungan yang lebih mendalam.
Kegiatan itu sendiri terdiri dari 4 gelombang : (1) Gelombang I dibimbing oleh Romo Noel Villafuerte, SDB, (2) Gelombang II diikuti siswa-siswa non-Katolik dibimbing oleh Lembaga Psikologi Nathan (3) Gelombang III dibimbing oleh Romo Heri Wijayanto, SJ, dan (4) Gelobang IV dibimbing oleh Hendro, SJ. Diharapkan pembekalan rohani yang diberikan di akhir jenjang pendidikanmereka di Santa Ursula ini, mampu membantu bekal mereka di masa mendatang.
Selasa, 07 Oktober 2008
Camping Outbond Pasir Mukti
Untuk tahun ajaran 2008-2009, kegiatan MOS diadakan pada 14-18 Juli 2008, diikuti 204 siswa baru. Selama pelaksanaannya, para siswa difasilitator oleh Tim Guru yang dibentuk dari para wali kelas X, para siswa juga didampingi kakak-kakak kelasnya, siswa-siswa kelas XI dan XII agar lebih cepat beradaptasi dan mengenal lingkungan barunya lebih baik. Beberapa alumni diundang secara khusus, diminta untuk membagikan pengalaman mereka selama belajar di SMA Santa Ursula. Kegiatan MOS yang diadakan dari pukul 07.00 sampai 13.00 berjalan dengan lancar dan penuh dinamika.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, seluruh acara MOS tahun ini ditutup dengan Camping Outbound di Kebun Wisata Pasir Mukti (KaWePe), Citeureup, Bogor, pada 26 Juli 2008. Lokasi yang bisa ditempuh lebih kurang satu jam dari Jakarta ini, para siswa mengikuti Ooutbond di tengah lahannya lumayan luas dan berumput hijau di antara pepohonan dengan pemandangan asri kebun buah, hamparan sawah, aliran sungai dan bukit karang. Malamnya mereka menikmati api unggun di malam Minggu yang dingin dan basah. Tujuan kegiatan ini adalah untuk lebih mengakrabkan para siswa baru dalam kelompok mereka masing-masing dan keseluruhan mereka sebagai komunitas pembelajar di SMA Santa Ursula.
Selasa, 23 September 2008
Misa Sekolah XII IPA 1 dan XII IPA 2
Mengacu pada bulan September yang diliputi oleh berbagai tragedi di dalamnya antara lain seperti pembunuhan aktivis HAM Munir, WTC, dan G-30S/PKI maka tercetuslah sebuah tema mendasar yang lahir dalam rangkaian kata “God As My Everything (GAME)”.
Lewat misa pertama dalam tahun ajaran 2008/2009 ini, ingin disampaikan bahwa dalam hidup tidak semuanya dapat berjalan seperti apa yang kita inginkan dan yang harus kita cermati adalah sikap kita dalam menanggapinya. Kita diingatkan kembali bahwa tidak ada suatu hal pun yang terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan dan selalu ada maksud dari setiap rencana-Nya. Maka sudah selayaknyalah kita memprioritaskan Tuhan dalam menghadapi segala peristiwa hidup ini dan bukannya menganggap Dia sebagai musuh kita.
Perayaan ekaristi yang berlangsung selama satu setengah jam tersebut dipimpin oleh Rm. Victorius Rudy Hartono, Pr dari Paroki St. Gabriel, Pulo Gebang. Romo yang baru pertama kali mempersembahkan misa kreatif di SMA Santa Ursula ini memberi apresiasi atas kreativitas para siswi yang sudah mampu mengemas misa dengan istimewa. Pesan dari bacaan kitab suci pun tersampaikan dengan baik lewat homili beliau yang sesekali disegarkan oleh gelak tawa dan pada akhirnya ditutup dengan indah lewat lagu “Wonderful Day”.
Meskipun sempat menemui hambatan mengenai waktu karena adanya jadwal pelajaran tambahan, namun dengan memanfaatkan jam perwalian dan didukung oleh kebijakan beberapa guru serta wali kelas, misa ini pun akhirnya dapat berlangsung dengan lancar. Namun hal ini juga disadari tidak akan terjadi tanpa adanya kontribusi penuh dari kelas penyelenggara misa dan tentu saja campur tangan Tuhan.
Semoga pesan yang ingin disampaikan lewat misa ini dapat terus terekam dalam memori dan tidak lewat seperti angin lalu begitu saja.
